Pernah nggak sih, lo berdiri di depan sebuah lukisan, dan bukannya lo yang nafsirin karya itu, karyanya yang malah “baca” isi kepala lo? Bukan cuma nafsirin, tapi berubah—warna, bentuk, suara—berdasarkan apa yang lo rasakan dan pikirkan saat itu. Ini bukan fiksi ilmiah. Inilah yang mulai terjadi di galeri-galeri seni kontemporer, termasuk yang ada di Jakarta Selatan. Penonton …








