Revolusi 'Living Canvas': Saat Galeri Seni Jakarta Mulai Pamerkan Lukisan Bioteknologi Mycelium yang Bisa 'Bernapas' dan Berubah Warna Sendiri
Uncategorized

Revolusi ‘Living Canvas’: Saat Galeri Seni Jakarta Mulai Pamerkan Lukisan Bioteknologi Mycelium yang Bisa ‘Bernapas’ dan Berubah Warna Sendiri

Kapan terakhir kali lo ngerasa “dilihat” sama lukisan di galeri?

Bukan dalam arti kiasan. Tapi lukisannya sendiri—beneran merespons lo. Berubah warna. Karena napas lo waktu lo lewat. Atau karena udara di luar galeri.

Kedengarannya kayak fiksi ilmiah. Tapi beberapa ruang seni di Jakarta udah mulai bergerak ke arah itu. Dan semua ini nyambung sama satu hal yang lebih konkret: kotanya sendiri sedang “sakit”.

Kenalan Dulu: Apa Itu “Living Canvas”

Bukan kanvas yang dilukis. Kanvasnya sendiri yang hidup. Mycelium—akar jamur—ditumbuhkan jadi lembaran tipis, diwarnai dengan pigmen alami, lalu distabilkan dalam kondisi tertentu. Tapi dia masih responsif terhadap rangsangan.

Ini bukan konsep kosong. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Biomimetics tahun 2025 udah membuktikan bahwa komposit miselium Ganoderma punya respons terukur terhadap perlakuan permukaan yang berbeda—pigmen dan teksturnya berubah. Peneliti menerapkan dua strategi perlakuan (“delayed growth” dan “accelerated growth”) pada sampel miselium, dan hasilnya muncul perbedaan pigmentasi serta tekstur. Artikel itu pakai istilah “aesthetic adaptation”. Artinya: material itu sendiri punya kemampuan mengubah penampilan berdasarkan kondisi.

Penelitian yang lebih baru melangkah lebih jauh. Proyek “Bio-Indicating Matter” yang diterbitkan Februari 2026 mengeksplorasi kombinasi struktur miselium dengan lapisan gel bioplastik, memungkinkan permukaan arsitektural merasakan pH melalui perubahan warna. Tujuannya mendeteksi kerusakan air dan aktivitas mikroba di dalam ruangan—menjadikan permukaan sebagai “antarmuka penginderaan ekologi interior”.

Dari “mendeteksi kerusakan air” ke “berubah warna di dinding galeri”, secara teknis jaraknya nggak sejauh yang lo kira.

Tanah di Jakarta: Batas Seni dan Biologi Udah Lama Kabur

Kalau lo ngikutin seni kontemporer Indonesia, arah ini sebenarnya nggak mengejutkan.

Ines Katamso, seniman Prancis-Indonesia, dalam pameran solonya “It Happened” di ISA Art & Design tahun 2021, karyanya berbasis pengamatan morfologi mikroba yang dia budidayakan di studionya. Lukisannya menggabungkan riset biologi, mikrobiologi, dan fisika, mengeksplorasi nenek moyang bersama tumbuhan, hewan, dan jamur di bumi. Siaran pers ISA Art bilang dengan jelas: karya Katamso “mendorong penonton untuk merenungkan keberadaan mereka sendiri dan dampaknya terhadap dunia alami”.

Syaiful Aulia Garibaldi melangkah lebih jauh. Seniman yang dinobatkan majalah Tempo sebagai “Tokoh Pilihan Seni” 2016 ini menumbuhkan lichen (lumut kerak) di atas fiberglass, lalu menstabilkannya dengan fiksatif. Lukisannya direkonstruksi dari pengamatan koloni mikroba di bawah mikroskop, seri jamur dan lumutnya dilukis dengan warna neon di atas latar hitam. Yang lebih penting, dia menciptakan sesuatu bernama “buras”—efek korosi dari reaksi kimia paduan tembaga dalam kondisi cuaca ekstrem. Biasanya seniman menghindari “cacat” ini. Dia sengaja membuatnya.

Praktik Syaiful dideskripsikan sebagai “melebur batas disiplin seni, biologi, dan teknologi”. Deskripsi itu, dalam konteks “Living Canvas”, tepat sekali.

Kenapa “Merespons Luka Kota”?

Sekarang balik ke kalimat pembuka: kotanya sendiri sedang “sakit”.

Kualitas udara Jakarta bukan masalah abstrak. Awal Oktober 2026, IQAir mencatat indeks AQI Jakarta mencapai 154, dengan konsentrasi PM2.5 12 kali lipat nilai panduan tahunan WHO. Pemerintah menyarankan warga pakai masker, tutup jendela, hindari aktivitas luar ruangan.

Ini bukan kejadian sesaat. Juni 2026, Jakarta sempat jadi kota dengan kualitas udara terburuk ketiga di dunia. Kementerian Luar Negeri Korea bahkan mengeluarkan notifikasi resmi, mengingatkan warganya soal memburuknya kualitas udara Jakarta.

Ines Katamso dalam wawancara dengan majalah Tempo mengatakan sesuatu yang pas di sini: karyanya “membangkitkan apresiasi terhadap alam, terutama di tempat-tempat di mana struktur buatan beton, kaca, dan logam mendominasi lanskap”.

Logika “Living Canvas” adalah: kalau kota sedang “bernapas” udara kotor, kenapa kanvas nggak bisa meresponsnya?

Mycelium itu hidup. Dia bereaksi terhadap komposisi udara. Kalau dia mendeteksi polutan, dia bisa berubah warna. Kalau kelembapan berubah, dia bisa mengubah tekstur. Ini bukan dekorasi. Ini sensor—yang terbuat dari material biologis.

Penelitian yang terindeks FAO AGRIS 2026 membuktikan bahwa dengan mengatur ekspresi gen biosintesis melanin pada partikel miselium Aspergillus niger, bisa dihasilkan material membran hidup dengan warna yang bisa disesuaikan, dan merespons perubahan konsentrasi xilosa di lingkungan. Peneliti secara eksplisit menyebut ini sebagai “biosensor potensial untuk mendeteksi kadar xilosa di air limbah industri”.

Dari air limbah industri ke udara kota, prinsipnya sama.

Yang Perlu Diketahui Kolektor dan Kurator

Pertama, ini bukan karya “beli, gantung di dinding, selesai”.

Mycelium itu hidup. Dia butuh kondisi. Kelembapan. Suhu. Nutrisi. Kalau lo taruh di galeri yang AC-nya terlalu dingin, dia bisa dorman. Kalau lo taruh di tempat yang terlalu lembap, dia bisa tumbuh berlebihan. Mengoleksi karya seperti ini berarti lo mengoleksi ekosistem, bukan objek.

Kedua, stabilitas warna masih dalam penelitian.

Ada penelitian yang menguji performa berbagai pewarna pada miselium. Ekstrak kopi menunjukkan hasil terbaik, memberikan warna lebih dalam dan menutupi bau miselium. Tapi pewarna makanan pada miselium hasilnya tidak konsisten—merah diserap dengan baik, hijau hampir tidak terlihat. Penggunaan pigmen alami berarti warna bisa berubah seiring waktu. Buat sebagian kolektor ini bug, buat yang lain ini feature.

Ketiga, kondisi pameran perlu didesain ulang.

Instalasi Syaiful Aulia Garibaldi “Inner Recesses” tahun 2015 di Ark Galerie menampilkan lichen yang setelah diambil dari substrat pertumbuhannya, dipasang di pelat aluminium dan distabilkan dengan fiksatif. Tapi artikel itu secara khusus mencatat: “lichen masih bisa berkembang lagi, jika lapisan fiksatifnya dilepas”. Artinya karya itu berada dalam kondisi dorman yang bisa dibalik. Kondisi lingkungan galeri menentukan apakah dia “tidur” atau “bangun”.

Pertanyaan yang perlu diajukan kurator bukan “lukisan ini digantung di dinding mana”, tapi “bagaimana pencahayaan, kelembapan, dan komposisi udara ruang ini, dan bagaimana semua itu memengaruhi perilaku karya”.

Keempat, pasar belum punya standar.

Lukisan yang berubah, bagaimana penetapan harganya? Bagaimana asuransinya? Bagaimana pengirimannya? Pertanyaan-pertanyaan ini belum ada jawaban baku. Tapi early adopter punya kesempatan mendefinisikan aturannya.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Kesalahan pertama: Menganggapnya sebagai gimmick “seni ramah lingkungan”. Kalau lukisan miselium cuma dipakai buat marketing “material berkelanjutan”, tapi nggak menghasilkan pengalaman estetis atau kedalaman konseptual baru, itu cuma greenwashing.

Kesalahan kedua: Mengabaikan biologi. Memperlakukan material hidup seperti material inert adalah jalur tercepat menuju kegagalan. Dia butuh pemahaman. Butuh perawatan. Butuh penerimaan bahwa dia bakal melakukan hal-hal di luar dugaan lo.

Kesalahan ketiga: Menganggap semua miselium sama. Spesies yang berbeda (Ganoderma, Pleurotus, Aspergillus niger) punya performa yang sangat berbeda. Kulit miselium Ganoderma udah terbukti bisa dikontrol warna dan teksturnya. Aspergillus niger lewat rekayasa genetika bisa berubah warna. Memilih spesies yang tepat menentukan apa yang bisa dilakukan karya itu.

Kesalahan keempat: Mengabaikan kekhasan Jakarta. Udara, kelembapan, suhu Jakarta—kondisi ini memengaruhi reaksi material hidup. Karya yang stabil di galeri Berlin bisa jadi sepenuhnya berbeda di Jakarta. Ini sekaligus peluang dan tantangan.

Kalau Lo Mau Mulai Koleksi atau Kurasi

  1. Pahami dulu materialnya. Sebelum beli, luangkan waktu buat memahami perilaku miselium. Kunjungi pameran yang menampilkan karya material hidup. Ngobrol sama seniman yang praktiknya seperti ini.
  2. Tanya pertanyaan yang tepat. Jangan tanya “lukisan ini berapa harganya”. Tanya “dia berubah dalam kondisi apa? Perubahannya bisa dibalik? Apa yang perlu gue lakukan buat menjaga kondisinya?”
  3. Siapkan skema pameran non-standar. Suhu dan kelembapan konstan ala galeri tradisional mungkin nggak cocok buat material hidup. Lo perlu desain lingkungan bareng seniman dan ilmuwan material.
  4. Terima ketidakpastian. Material hidup bakal melakukan hal di luar dugaan lo. Itu bagian dari nilainya. Kalau lo butuh kontrol penuh, bidang ini nggak cocok buat lo.
  5. Perhatikan konteks khas Jakarta. Masalah kualitas udara, kelembapan, suhu kota ini—semua itu objek yang “direspons” karya. Pahami konteksnya, baru paham apa yang sedang dikatakan karya itu.

Akhirnya

Udara Jakarta makin buruk. Ini fakta.

Tapi seni punya kemampuan aneh: dia mengubah masalah jadi material. Mengubah polusi jadi pigmen. Mengubah “luka” kota jadi perubahan warna yang lambat, nyaris nggak kelihatan, di atas kanvas.

“Living Canvas” bukan sedang memamerkan teknologi. Dia sedang memamerkan sebuah relasi—antara kota dan biologis, manusia dan non-manusia, polusi dan respons.

Waktu lukisan miselium berubah warna karena polusi udara, dia bukan sedang “menggambarkan” masalah. Dia sedang menjadi bagian dari masalah itu. Dan siapa pun yang mengoleksi, memamerkan, atau menatapnya, juga jadi bagian dari relasi itu.

Itu yang bikin dia radikal.

Anda mungkin juga suka...